InWECNA Gorontalo Sukses Menggelar Pelatihan Perawatan Luka Angkatan ke-11, Perkuat Kompetensi dan Jejaring Profesional Perawat Gorontalo

InWECNA Gorontalo kembali menunjukkan konsistensinya dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan melalui suksesnya penyelenggaraan Pelatihan Perawatan Luka Angkatan ke-11 yang berlangsung selama empat hari, pada 11–14 Februari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode blended learning, yakni sesi daring pada 11–12 Februari 2026 dan dilanjutkan sesi luring pada 13–14 Februari 2026 bertempat di Crystal Harmoni Gorontalo.

Pelatihan ini diikuti oleh perawat dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Provinsi Gorontalo, baik rumah sakit, puskesmas, maupun klinik mandiri. Antusiasme peserta terlihat sejak hari pertama pelaksanaan, di mana sesi daring diisi dengan pemaparan materi komprehensif mengenai konsep dasar manajemen luka modern.

Pada sesi teori, peserta mendapatkan penguatan terkait fisiologi proses penyembuhan luka, klasifikasi dan identifikasi jenis luka akut maupun kronis, konsep wound bed preparation (TIME), pemilihan balutan modern sesuai karakteristik luka, hingga strategi pencegahan dan pengendalian infeksi. Materi disampaikan oleh narasumber berpengalaman dan tersertifikasi nasional di bidang perawatan luka, yang menekankan pentingnya pendekatan evidence-based practice dalam setiap tindakan klinis.

Memasuki sesi luring, suasana pelatihan semakin dinamis dengan dilaksanakannya praktik langsung (hands-on). Peserta diberikan kesempatan untuk melakukan asesmen luka secara komprehensif, menentukan rencana intervensi, melakukan teknik perawatan dan pemilihan dressing yang tepat, serta mengevaluasi perkembangan luka secara sistematis. Pendekatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara tepat dan profesional di tempat kerja masing-masing.

Ketua panitia dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi perawat di Gorontalo.

“Perawatan luka bukan hanya tentang mengganti balutan. Dibutuhkan pemahaman menyeluruh tentang proses penyembuhan, kondisi sistemik pasien, serta pendekatan holistik agar hasil yang dicapai optimal. Melalui pelatihan ini, kami ingin membentuk perawat yang kompeten, percaya diri, dan profesional dalam praktik klinisnya,” ujarnya.

Selain peningkatan kompetensi teknis, pelatihan ini juga menjadi ruang silaturahmi dan penguatan jejaring profesional antar tenaga kesehatan. Diskusi interaktif, berbagi pengalaman kasus, serta kolaborasi antar peserta menjadi nilai tambah yang memperkaya wawasan dan perspektif dalam penanganan luka, khususnya luka kronis seperti ulkus diabetikum, luka tekan (pressure injury), dan luka post-operasi.

Sejumlah peserta mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan pemahaman baru tentang pentingnya penggunaan balutan modern serta strategi manajemen luka yang sistematis dan terukur. Mereka juga menyadari bahwa pendekatan tradisional yang tidak berbasis evidensi berpotensi memperlambat proses penyembuhan dan meningkatkan risiko komplikasi.

Pos terkait