Penulis : Untung Taduga,
KEINGINAN untuk menulis tentang sosok ini sebenarnya sudah lama muncul. Namun keraguan kerap menahan langkah, khawatir dianggap berlebihan, disalahartikan, atau dinilai memiliki kepentingan tertentu.
Maklum, saat ini beliau menjabat sebagai Ketua TP. PKK Kabupaten Gorontalo dan merupakan istri Bupati Gorontalo. Dalam iklim birokrasi, apresiasi personal sering kali dibaca dengan kacamata politis.
Tetapi tulisan ini tidak lahir karena jabatan yang beliau sandang hari ini. Tulisan ini tumbuh dari ingatan lama, dari pengalaman yang terawat sejak dua dekade silam, ketika beliau masih menjabat sebagai Wakil Ketua TP. PKK Kabupaten Gorontalo periode 2005–2010. Nama itu adalah Ny. Maryam Sofyan Puhi.
Bagi sebagian orang, jabatan mungkin menghadirkan jarak. Namun pada diri beliau, jabatan justru menjadi ruang untuk mendekat. Rendah hati dan penuh perhatian, dua kesan yang melekat kuat sejak pertama kali berinteraksi. Kala itu, saya dan beberapa rekan bertugas sebagai humas Pemerintah Kabupaten Gorontalo.
Setiap kunjungan lapangan ke kecamatan untuk meliput kegiatan PKK, mobil dinas Wakil Ketua TP. PKK hampir selalu menjadi “kendaraan operasional” tak resmi bagi kami. Bukan semata soal tumpangan, tetapi rasa aman yang disertai dengan penerimaan yg luar biasa.
Di tengah agenda resmi dan protokoler, beliau tidak pernah membangun sekat antara pimpinan dan staf peliput. Relasi yang terbangun lebih menyerupai hubungan seorang ibu dengan anak-anaknya, hangat, protektif, dan tulus.
Salah satu kebiasaan yang sulit dilupakan adalah tradisi sederhana seusai liputan. Kami tidak diperkenankan kembali sebelum makan terlebih dahulu di rumah dinas Wakil Bupati. Jika ada di antara kami yang terlanjur pulang tanpa makan, telepon dari beliau hampir pasti menyusul, meminta kami kembali ke rudis untuk makan bersama.
Perhatian itu mungkin terdengar sederhana. Namun dalam keseharian birokrasi yang serba cepat dan formal, sentuhan seperti itu terasa istimewa. Ia bukan sekadar keramahan simbolik, melainkan bentuk kepedulian yang konsisten.
Hingga kini, kenangan tersebut tetap hidup dalam ingatan kami yang pernah membersamai beliau. Secara pribadi, saya juga pernah merasakan dukungan beliau dalam sebuah momen sakral dalam perjalanan hudup saya. Dukungan itu hadir bukan hanya dalam bentuk nasihat, tetapi juga tenaga dan materi.
Ia datang tanpa syarat, tanpa publikasi, tanpa perlu diketahui banyak orang. Karena itulah, bagi saya, Ny. Maryam Sofyan Puhi bukan sekadar istri Bupati Kabupaten Gorontalo. Beliau adalah figur ibu, orang tua dalam arti yang lebih luas, membimbing, menjaga, dan memberi tanpa menghitung.
Kini, dalam kapasitasnya sebagai Ketua TP. PKK Kabupaten Gorontalo, sikap itu tidak berubah. Setiap kali berpapasan, justru beliau yang lebih dahulu menyapa. Sebaliknya, saya hampir tak pernah menjadi orang pertama yang menyampaikan salam. Selama setahun terakhir, saya nyaris tidak pernah berkunjung ke Rumah Dinas Bupati selain untuk urusan kedinasan.
Namun setiap pertemuan, beliau selalu mengingatkan dengan nada hangat agar datang bersilaturahmi secara khusus. Sebuah “tagihan” yang sesungguhnya adalah undangan penuh kasih. Beberapa kali niat itu terbit, namun belum juga terlaksana.
Bukan karena jarak atau kesibukan semata, melainkan karena rasa hormat yang begitu besar hingga menghadirkan rasa segan untuk datang sendirian. Tulisan ini mungkin datang terlambat. Tetapi barangkali memang demikian adanya, bahwa penghargaan yang tulus sering kali memilih waktu yang tenang untuk diungkapkan. Sehat selalu, Ibu.
Kami yang pernah membersamai Ibu pada masa itu tidak akan pernah melupakan perhatian dan kasih sayang yang telah Ibu berikan. Teruslah menjadi ibu bagi seluruh rakyat Kabupaten Gorontalo, mengayomi dengan ketulusan, memimpin dengan kelembutan, dan hadir tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.
Karena dalam hiruk-pikuk jabatan dan protokol, yang paling lama dikenang bukanlah posisi, melainkan sikap. (*)





