Penulis : Dr. Funco Tanipu., ST., M.A (Founder The Gorontalo Institute)
Jangan menertawakan imajinasi. Hari ini, sikap itu bukan hanya kekeliruan—tetapi tanda ketidakmampuan membaca zaman. Yang lebih berbahaya, banyak pemimpin justru masih terjebak dalam pola itu: meremehkan kemungkinan, menunda adaptasi, dan baru bergerak ketika keadaan sudah memaksa. Padahal, dunia tidak lagi bergerak seperti dulu. Ia melesat.
Apa yang dahulu dianggap utopis—kerja jarak jauh, kecerdasan buatan, kota cerdas, hingga integrasi ruang fisik dan digital—kini menjadi realitas sehari-hari. Namun, persoalannya bukan lagi sekadar apakah kita bisa membayangkannya, melainkan seberapa cepat kita mampu meresponsnya.
Di sinilah pemikiran Paul Virilio menemukan relevansinya. Dalam dromologi, ia menegaskan bahwa kekuasaan modern ditentukan oleh kecepatan. Bukan siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling cepat.
Dan di titik ini, kita harus jujur mengakui: banyak kepemimpinan hari ini kalah bukan karena tidak punya sumber daya, tetapi karena terlalu lambat.
Kita sedang menghadapi krisis yang tidak kasat mata, tetapi nyata dampaknya: krisis kepemimpinan dalam menghadapi kecepatan. Teknologi melaju eksponensial. Artificial intelligence berkembang dalam hitungan bulan. Pola kerja berubah dalam hitungan hari. Ekspektasi publik bergeser dalam hitungan detik.
Namun, banyak pemimpin masih bekerja dalam ritme lama: rapat panjang, keputusan berlapis, penuh kehati-hatian yang berlebihan, dan ketakutan mengambil risiko. Mereka tidak sadar bahwa dalam logika kecepatan, keterlambatan adalah bentuk kegagalan.
Dalam konteks ini, kita bisa membedakan secara tegas dua tipe kepemimpinan yang sedang bertarung hari ini. Pertama, kepemimpinan administratif. Tipe ini hidup dari prosedur, nyaman dalam stabilitas, dan cenderung reaktif. Ia menunggu masalah muncul, baru bergerak. Ia mencari kepastian sebelum mengambil keputusan. Ia lebih takut salah daripada takut tertinggal.
Kedua, kepemimpinan akseleratif. Tipe ini hidup dari kecepatan berpikir dan keberanian bertindak. Ia membaca sinyal sebelum krisis terjadi. Ia berani mengambil keputusan dalam ketidakpastian. Ia memahami bahwa tidak semua keputusan harus sempurna—tetapi harus tepat waktu.
Perbedaan keduanya bukan sekadar gaya, melainkan soal relevansi. Kepemimpinan administratif mungkin masih bertahan di dunia yang stabil. Tetapi di dunia yang bergerak cepat seperti sekarang, ia menjadi usang. Sebaliknya, kepemimpinan akseleratif bukan lagi pilihan ideal—melainkan kebutuhan mendesak.
Namun, di sinilah ironi terbesar kita. Banyak pemimpin ingin terlihat modern—berbicara tentang digitalisasi, AI, transformasi—tetapi cara berpikirnya tetap analog. Mereka mengadopsi teknologi, tetapi tidak mengubah mentalitas. Akibatnya, yang terjadi bukan transformasi, melainkan kosmetik.
Kita melihat institusi yang membeli sistem canggih, tetapi tetap lambat mengambil keputusan. Kita melihat kebijakan berbasis data, tetapi diambil terlambat. Kita melihat jargon inovasi, tetapi tanpa keberanian eksekusi. Inilah bentuk paling nyata dari krisis kepemimpinan hari ini: ketidakmampuan menyelaraskan imajinasi dengan kecepatan.
Virilio mengingatkan bahwa setiap percepatan melahirkan risiko—the accident of speed. Benar. Kita melihatnya dalam disinformasi, bias algoritma, hingga kebijakan yang tergesa. Tetapi yang sering dilupakan adalah ini: ketidakmampuan bergerak cepat juga melahirkan kecelakaan—kecelakaan karena keterlambatan. Dan dalam banyak kasus, dampaknya jauh lebih fatal.
Kebijakan yang terlambat bisa memperparah krisis. Keputusan yang ditunda bisa menghilangkan peluang. Kepemimpinan yang ragu bisa menciptakan ketidakpercayaan publik. Jadi, persoalannya bukan memilih antara cepat atau hati-hati. Persoalannya adalah: apakah kita mampu cepat sekaligus tepat?
Hari ini, kita hidup dalam apa yang bisa disebut sebagai permanent acceleration—akselerasi yang tidak pernah berhenti. Tidak ada lagi fase “normal” untuk kembali berpijak. Disrupsi bukan pengecualian, tetapi kondisi permanen.
Dalam situasi seperti ini, publik tidak lagi menunggu. Mereka menilai secara real-time. Mereka tahu siapa yang responsif dan siapa yang lambat. Siapa yang berani dan siapa yang ragu. Siapa yang memimpin dan siapa yang sekadar menjabat. Dan diam-diam, mereka membandingkan.
Karena itu, mari kita jujur pada satu hal: krisis kepemimpinan hari ini bukan karena kurangnya orang pintar, bukan karena minimnya teknologi, dan bukan karena tidak adanya solusi. Krisis ini terjadi karena terlalu banyak pemimpin yang tidak siap hidup dalam kecepatan zaman.
Mereka masih berpikir bahwa waktu bisa ditunda. Padahal, dalam dunia hari ini, waktu justru menekan. Mereka masih percaya bahwa kehati-hatian adalah keutamaan utama. Padahal, dalam banyak situasi, keberanian mengambil keputusan jauh lebih menentukan.
Pada akhirnya, pertarungan terbesar hari ini bukan antara manusia dan teknologi, tetapi antara kecepatan dan keterlambatan dalam kepemimpinan. Imajinasi saja tidak cukup. Kecepatan saja juga tidak cukup.
Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu menyatukan keduanya—membayangkan masa depan sekaligus bertindak cepat di masa kini.
Jika tidak, maka kita harus siap menerima kenyataan pahit ini: dalam dunia yang bergerak secepat sekarang, yang tersingkir bukan yang paling lemah, melainkan yang paling lambat. Dan sejarah tidak pernah memberi ruang bagi mereka yang terlambat belajar. (*)






